Pendaftaran operasi bibir sumbing gratis Pontianak sampai 23 Oktober 2012

Rumah Sakit Kharitas Bhakti, PDGI Pengurus Wilayah Kalbar dan Pontianak Post Group menggelar bhakti sosial operasi bibir sumbing gratis bagi warga kurang mampu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian hari jadi Kota Pontianak ke 241. KEGIATAN yang dilaksanakan untuk kedua kalinya itu diketuai Sukandar Winata, sekretaris drg Heru Tiono dan bendahara Hermawan Wongso. “Terakhir kita melaksanakan operasi bibir sumbing pada tahun 2010 lalu. Saat itu terdaftar 20 peserta dari berbagai daerah di Kalbar,” kata Kepala RS Kharitas Bhakti Pontianak drg Krisna.

Ketua Persatuan Dokter Gigi (PDGI) Pengurus Wilayah Kalbar drg Heru Tiono menjelaskan kegiatan sosial ini bertujuan untuk meringankan penderita bibir sumbing dari keluarga kurang mampu. Pendaftaran dapat dilakukan di RS Kharitas Bhakti Pontianak, Jalan Siam dan Pontianak Post, Lantai V Graha Pena Pontianak, Jalan Gajahmada.

Bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan keluarganya cukup melampirkan surat keterangan miskin dari lurah atau kepala desa setempat. Pendaftaran bisa dimulai saat ini dan berakhir 23 Oktober mendatang. Pelaksanaan operasi, lanjut Heru, kemungkinan awal November. Dokter akan melakukan observasi dulu terhadap pasien. Apakah hanya mengalami sumbing pada bibir dan langit-langit, celah bibir, palato scisis atau labio.

Operasi bibir sumbing ini selain ditangani dokter ahli dari Pontianak juga melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta. Kerjasama ini sebelumnya juga pernah dilakukan pihak RS Kharitas Bhakti Pontianak dan PDGI Kalbar. Dalam rangkaian kegiatan ini juga akan di-launching Pusat Layanan Rehabilitasi Celah Bibir Kalbar.

Lembaga ini hadir sebagai bentuk kepedulian untuk membantu meringankan penderita bibir sumbing dari keluarga yang kurang mampu. Mereka tidak dipungut bayaran. Cukup menunjukkan surat keterangan tidak mampu dari kepala desa atau lurah setempat. Pelaksanaan operasi bisa dilakukan secepat mungkin. “Jadi bagi masyarakat yang anggota keluarganya menderita bibir sumbing, tidak perlu harus menunggu kegiatan bhakti sosial untuk operasinya. Mereka kapan saja bisa datang ke rumah sakit kita untuk pelaksanaan operasi,” kata drg Krisna. Dengan adanya pusat layanan ini, diharapkan Kalbar tidak ada lagi penderita bibir sumbing. Untuk itu peran serta dan kesadaran masyarakat juga diharapkan untuk memberikan informasi jika mengetahui adanya penderita bibir sumbing. Sehingga cacat bawaan sejak lahir itu bisa diatasi dengan melakukan operasi sedini mungkin.**

Sumber